“Optimalisasi Misson HMI dalam Membangunan Masyarakat Indonesia; Ikhtiar Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur”

BAB I

PENDAHULUAN

Kini dalam realitas kehidupan kita dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang memperihatinkan, dimana penyelenggaraan negara tidak lagi bertumpu pada kemaslahatan umat bangsa dan negara, yakni tidak adanya keberpihakan yang jelas terhadap kelangsungan kehidupan rakyat yang menempati tanah air “Indonesia” ini. Bagaimana tidak, fakta-fakta praktek dehumanisasi terjadi dimana-mana, hancurnya lembaga penegak hukum, posisi “budaya” yang terpinggirkan, sistem perpolitikan kita tidak menghasilkan negarawan yang arif, kebudayaan yang kehilangan dasar–dasar moralitas, praktek keagamaan yang menjadi lahan bisnis. Di dalam berbagai kondisi ini, kita seakan kehilangan harapan untuk melakukan perubahan.

Apa yang dapat kita lakukan saat ini? HMI adalah organisasi yang lahir sebagai anak kandung umat dan bangsa Indonesia, tepatnya pada 5 februari 1947 bertepatan dengan 14 rabiul awal 1366 H, sejarah telah mencatat itu. Sejak kelahirannya komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesian layaknya dua sisi pada satu keping koin mata uang yang tak terpisahkan, di dalam tubuh organisasi Himpunan ini. Perubahan boleh terjadi, di sisi lain HMI harus terus tumbuh dan berkembang dalam semangat ke-Islaman. Jika HMI sebagai tubuh maka jiwanya adalah Islam yang hidup dengan karunia bangsa yang besar. Oleh karena itu konsistensi sikap HMI akan terus digugat baik di eksternal maupun internal dalam mengawal gerak perubahan bersama kepentingan umat dan bangsa. Sebab kehadiran dan keberlangsungan organisasi ini tergantung pada upaya menjawab tantangan zaman.

Ada tiga komponen yang menjadi dasar di dalam sendi-sendi keberadaan orgnaisasi ini, untuk menjaga agar tetap berada pada mission yang telah ditetapkan. Pertama nilai-nilai ke-Islaman yang menjadi ruh bagi bergeraknya organisasi ini. Kedua tradisi intelektual yang terus hidup sebagai kerangka di dalam menjawab tantangan zaman. Ketiga semangat kejuangan kader di dalam perannya ditengah umat dan bangsa.

Untuk merealisasikan aspek nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan maka, HMI harus kembali kepada khittohnya sebagai Mahasiswa yang berorientasi kepada keilmuan sebagai insan akademis, pecipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

A.     Latar Belakang Masalah

HMI sebagai organisasi yang mempunyai status sebagai organisasi mahasiswa sudah sepantasnya mempunyai khittoh perubahan dalam menerjemahkan diri sebagai organisasi kader, HMI mempunyai peranan dalam mendidik dan mempersiapkan individu-individu untuk menjadi tulang punggung organisasi, serta semua ini tidak luput dari peranannya yaitu sebagai organisasi perjuangan yang berikhtiar untuk menjadikan masyarakat adil makmur dalam mencapai cita-cita bangsa dan Negara Republik Indonesia. Sehingga untuk mencapai tujuan dalam rangka meningkatkan semangat dalam melakukan perubahan, meningkatkan kemampuan manajerial serta meningkatkan intelektualitas yang dapat ditransformasikan gagasan dalam bentuk kerjanya dan amal shaleh. Dengan semangat perjuangan dan menjalankan proses kaderisasi guna mempersiapkan kader yang dapat menjadi tulang punggung organisasi untuk meneruskan perjuangan oraganisasi HMI kedepan.

Maka optimalisasi peran HMI pada ruang sosial merupakan syarat untuk menempatkan HMI sebagai organisasi berazaskan Islam yang independen, berperan sebagai organisasi perjuangan, dan berfungsi sebagai organisasi kader. Oleh karena itu, kader merupakan harta yang paling berharga di dalam mempertahankan kelangsungan roda organisasi. Salah satu bentuk aktivitas kaderisasi yakni pelatihan formal yang menjadi sarana HMI menginternalisasi tiga komponen dasar ini.

Atas dasar itu semua, kita harus berpijak pada rumusan awal tujuan HMI yakni (1) mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, (2) menegakan dan mengembangkan ajaran Islam. Tentunya semua ini mengindikasikan keterlibatan HMI dalam memperbaiki kehidupan kemanusian di berbagai dimensi pada aspek spiritual dan material. Pertanyaan kita selanjtunya,  sejauhmana peran dan fungsi HMI guna tetap menjadi kiblat gerakan dalam mengemban tugas mulia ini?  Bagaimanakah formulasi gerakan HMI dalam membangun bangsa dan negara? Lalu adakah ikhtiar HMI dalam memperjuangkan itu semua? Karena HMI tidak pernah sendiri di dalam kebenaran.

B. Kerangka Teori dan Sistematika Pembahasan

Pada  makalah ini penulis menggunakan pendekatan pustaka (liblary riserch) untuk menguraikan permasalah diatas, dengan menggunakan mission HMI sebagai data primer yang digunakan dan beberapa buku HMI yang menjelaskan tentang mission HMI tersebut. Sedangkan data sekundernya penulis mencoba melihat buku maupun refrensi lainnya yang menunjang pada data primer tersebut baik makalah, jurnal, internet dan lainnya. Sedangkan pisau analisisnya mengunakan analisis deskriftif  yang mencoba menjambarkan dan menggali semua permasalahan tadi dengan menggunakan data-data yang terhimpun.

Dalam pembahasan makalah ini penulis mencoba menguraikan permaslahan diatas dengan membaginya dalam tiga bab. Bab pertama membahas pendahuluan, latar belakang masalah dan kerangka teori dari makalah ini. Bab kebua membahas isi dalam rangka menjawab permasalahn pada bab pertama dengan subtema tujuan hmi, penjelasan kualitas insan cita, bentuk pegerakan dan proses pengkaderan HMI dalam membentuk intelektual (cendikiawan). Peran intelektual HMI dalam membangun Bangsa dan Negara. Serta ihktiar kader HMI dalam rangka mengabdi pada umat. Dan  pada bab ke tiga adalah kesimpulan.

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Tujuan HMI; Three Komitmen HMI tentang Wawasan Keislaman, Keindonesiaan dan Kemahasiswaan

Misi dan tujuan HMI secara tersirat dari latar belakang berdirinya HMI dan secara tersurat terformulasikan dalam rumusan pertama tujuan HMI. Adapun rumusan tujuan HMI yang pertama adalah:

  1. Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
  2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.

Dari dua rumusan tujuan awal HMI berdiri termanifestasikan secara utuh dalam komitmen ke-Indonesiaan dan ke-Islaman HMI dalam pluralistiknya kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Komitmen tersebut mempunya citra rasa nilai luhur yang dimiliki organisasi mahasiswa dan menghimpun generasi muda penerus bangsa. Semua itu merupakan suatu keberanian dan sikap mental yang istiqomah dalam melakukan gerakan, perjuangan, dan pengabdian secara utuh untuk melakukan pilihan tepat. Dalam konteks menikatnya kemajemukan umat Islam, multikulturalnya kebudayaan  bangsa dan pluralnya masyarakat Indonesia secara global.[1]

Untuk merealisasikan gagasan keislaman dan keindonesiaan itu, Lafran Pane mendirikan HMI pada tanggal 5 februari 1947. Sebagai alat untuk merealisasikan gagasan itu, diperlukannya sebuah wadah dalam bingkai organisasi mahasiswa Islam (HMI). Dengan kata lain organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan HMI yang pertama tadi.

HMI ketika didirikan mempunya tiga komitmen tentang wawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan kemahasiswaan, berikut penjelasan ke tiga wawasan (komitmen) HMI:[2]

        1.Wawasan ke-Indonesiaan

Wawasan ini terlihat dari tujuan HMI yang pertama; Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Yang memuat lima pemikiran (1) aspek politik membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan (2) aspek pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa(3) aspek ekonomi mensejahtrakan kehidupan rakyat (4) aspek budaya membangun budaya-budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia (5) Aspek hukum yaitu membangun hukum yang sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia.

        2. Wawasan ke-Islaman

Wawasan ini terlihat dari tujuan HMI yang kedua; Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Yang mengandung tiga pemikiran; (1) pengamalan ajaran Islam secara utuh dan benar sesuai dengan tuntutan al-Quran dan al-Hadis (2) keharusan pembaharuan pemikiran dalam Islam (3) pelaksanaan dan pengembangan dakwah Islam.

        3.Wawasan ke-Mahasiswaan

Wawasan ini menekankan bahwa HMI adalah organisasi kemahasiswaan yang berorientasi kepada keilmuan dengan kewajiban menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci kemajuaan bagi terwujudnya intelektual Islam. Pembangunan Indonesia jauh lebih berat dari pada sekedar merebut kemerdekaan. Karena itu perlu dibina dan di kembangkan calon cendikiawan yang memiliki pengetahuan luas di segala bidang dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT, bagi kepentingan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Ketiga wawasan ini menegaskan jati diri HMI sebagai organisasi berazaskan Islam yang bersifat independen, berperan sebagai organisasi perjuangan, berfungsi sebagai organisasi kader. Dan yang terpenting kader HMI selalu siap berjuang untuk “Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam”. Oleh sebab itu setiap kader HMI memiliki kewajiban menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci kemajuaan dan bersedia mengamalkannya dengan ikhlas sebagai ikhtiar untuk membangun bangsa dan Negara serta mengabdi kepada umat.

Melihat itu semua pada kongres ke- 10 HMI di Palembang tanggal 10 oktober 1971, berhasil dirumuskan suatu putusan yakni tentang tafsir tujuan HMI. Tujuan yang jelas diperlukan oleh suatu organisasi, sehingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur dan terarah.[3]

Tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar pembentukan, status dan fungsinga dalam totalitas dimana ia berada. Dalam totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan inspirasi bahwa HMI berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi kader dan yang berperan sebagai organisasi perjuangan serta bersifat independen.

Pemantapan fungsi kekaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup  yang terpadu  antara pemenuhan tugas duniawi  dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang  paling mendasar.

Atas faktor tersebut, maka HMI  menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4. AD ART HMI yaitu :

“TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI ALLAH SUBHANAHU WATAALAH”.

 

Dengan rumusan tersebut,  maka  pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif  merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

 2.      Pengkaderan HMI Sebagai Sistem Pendidikan yang Membangun Bangsa

Dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi kader HMI menggunakan pendekatan yang sistematik dalam keseluruhan proses pengkaderannya. Semua bentuk aktifitas perkaderan disusun dengan semangat integralistik untuk mengupayakan tercapainya tujuan organisasi. Maka dari itu HMI memberikan keterangan yang jelas dan tegas terkait sistem perkaderan pada pedoman perkaderannya. [4]

Melihat HMI berfungsi sebagai organisasi kader, maka seluruh aktifitasnya harus memperhatikan kualitas para anggotanya. Sifat kader HMI dipertegas dalam tujuan pasal 4 anggaran dasar HMI dan usaha-usaha pada pasal 5 AD HMI. Tujuan ini mengarahkan kemana perkaderan itu dibawa dan output dan inputnya itu semua terdapat pada usaha yang harus dilakukan.

Kader HMI haruslah berkualitas dan mempunyai nilai lebih dari mahasiswa lainnya. Kader HMI merupakan Human Material yang di hadapi HMI untuk dibina dan di kembangkan supaya mereka yang memiliki kualitas-kualitas sebagai mahasiswa yang terampil atau ahli dalam bidang keimuannya. Sebagai kader mereka memiliki kesadaran untuk berlatih dan mengembangkan potensi pribadinya guna menyongsong masa depan umat, peradaban, bangsa,  Negara Indonesia. Sebagai pejuang mereka ikhlas, bersedia berbuat dan berkorban guna mencapai cita-cita umat Islam dalam menopang peradaban dan kemajuan bangsa Indonesia kini dan mendatang. Inilah yang menjadi landasan kaderisasi pendidikan di lingkungan HMI. Seperti Komisariat Adab haruslah membina kader dengan wawasan keilmuan keadaban dan wawasan kepemimpinan sesuai fungsi dan perannya.

Berarti kegiatan dan aktifitas HMI merupakan pendidikan kader (kaderisasi) dengan sasaran anggota-anggota HMI dalam hal: (A) Watak dan Kepribadiaannya yaitu dengan memberikan kesadaran agama, akhlak dan watak yang menjelma menjadi individu yang beriman, berakhlak luhur, memiliki watak ontektik serta memiliki pengabdiaan dalam arti hakiki. (B) Kemamapuan Keilmuan yang Luas, Yaitu dengan membina anggota sehingga memiliki keilmuaan dan pengetahuan serta kecerdasan dan kebijaksanaan. Seorang kader HMI dituntut sebagai intelektual yang paripurna yang tidak hanya pakar pada bidang keilmuannya akan tetapi ia akan memperluas cakrawala keilmuannya ditambah dengan kecerdasan dan kebijaksanan karena ia sadar seebagai hamba Allah yang mempunyai tanggung jawab sosial. (C) Keterampilannya. Pandai dan cerdas menerjemahkan ide juga pikiran dalam praktik. Dengan terbinanya tiga sasaran tersebut maka terbinalah lima insan cita HMI yang beriman berilmu dan beramal.

Dengan demikian terbinanya tiga sasaran tersebut. Maka terbinalah insan cita HMI yang ber-Iman, ber-Ilmu dan ber-Amal. Tujuan HMI telah memberikan gambaran tentang insan cita.

Lalu bagaimana upya HMI dalam membangun bangsa dan Negara ini? HMI mempunyai peran dan berpartisipasi aktif, konstruktif bersama-sama pemerintah Indonesia menciptakan kondisi yang kondusif dalam semua aspek kehidupan bangsa. HMI harus bekerjasama dengan pemerintah, dan berani mengambil sikap kooperatif dan kritis terhadap pemerintah dalam melayani rakyatnya. Kebijaksanaan harus sesuai dengan ajaran Islam ( yang komperhensif, dinamis, progresif dan adil) yang memihak kepada kepentingan rakyat menyerukan dan amal ma’ruf nahi munkar. HMI juga harus berpartisifasi aktif dalam meningkatkan harkat martabat peradaban bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan, ekonomi, kebudayaan sosialpolitis dan dimensi lainnya untuk mencapai amanat pancasila dan UUD 45, yakni masyarakat adil dan makmur.[5] Maka dari itu semua jelaslah HMI mempunyai peran serta dalam pembangunan Bangsa dan Negara ini. Untuk melaksanakan pembangunan, faktor yang sangat diperlukan adalah ilmu pengetahuan dan mengetahui medan perjuangan.

Sebagai pengabdi Negara, kader HMI di gamabarkan sebagai pemimpin yang dibutuhkan oleh umat yaitu dengan menjadi negarawan yang “problem solver” yaitu tipe “administrator” disamping ilmu pengetahuan diperlukan pula adanya iman/akhlak, sehingga mereka mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan (amal saleh). Manusia yang demikian mempunyai garansi yang obyektif untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke dalam suatu kehidupan yang sejahtera adil dan makmur serta kebahagiaan, agar terwujudnya bangsa yang  merdeka, bersatu dan berdaulat, menghargai HAM, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan  dengan tegas tertulis dalam Pembukaan UUD  1945 dalam alinea kedua.

3. Wujud Kader Berkualitas Insan Cita ( Kader Paripurna); Optimalisasi Kader HMI dalam Mengabdi Pada Umat dan Bangsa

Berpijak pada landasan-landasan, arah dan tujuan pengkaderan HMI, maka akhir kegiatan perkaderan di HMI diarahkan dalam rangka membentuk profil kader yang ideal, yaitu muslim intelektual professional. [6] Tiga aspek usaha yang harus dilakukan yaitu pembentukan integritas watak dan kepribadian, pengembangan kualitas intelektual atau kemampuan ilmiah, pengembangan kemampuan profesi atau keterampilan harus terintegrasikan secara utuh. Secara spesifik wujud dan profil kader yang dinginkan HMI adalah sesuai dengan tujuannya pada pasal 4 AD HMI yaitu lima kualitas insan cita.

Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI  di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan  berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 4  AD HMI)  adalah sebagai berikut :[7]

1.Kualitas Insan Akademis

a)  Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.

b)      Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya  dengan kesadaran.

c)      Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis  maupun teknis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara  bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.

2.Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta

a)      Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan  bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan  dan pembaharuan.

b)      Bersifat independen, terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, sehingga dengan demikian kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.

c)      Dengan memiliki kemampuan akademis dan mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.

3.Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi

a)      Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan ummat dan bangsa.

b)      Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukan hanya sanggup membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.

c)      Insan akdemis, pencipta dan pengabdi adalah insan yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan umat dan bangsa.

4.Kualitas Insan yang  bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam

a)      Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.

b)      Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.

5.Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT

a)      Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.

b)      Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari perbuatannya dan sadar dalam menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.

c)      Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.

d)     Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

e)      Evaluatif dan selektif  terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

f)       Percaya pada diri sendiri  dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.

Pada esensinya insan pelopor yang berpikiran luas dan  berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan man of future. Tipe ideal dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka  itu manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu  beramal  saleh dalam kualitas yang maksimal sebagai Kader Paripurna (insan kamil).

Kader paripurna dituntut menerapkan “ethic” tinggi, nilai-nilai yang merepresentasikan seorang yang paripurna. Kader HMI  harus mempunyai kekuaatan moral”moral force” dalam masyarakat. senantiasa harus bersikap kritis dan menciptakan perubahan terhadap realitas. Kader haruslah berkomitmen kepada kebenaran, keadilan dan kejujuran. Karena ilmu yang luas saja tidak cukup perlu adanya kekuatan moral moral force”  untuk membentenginya.

Disamping itu kader paripurna adalah pelopor yang mempunya inisiatif avant garde, untuk prakarsa pertama dalam setiap situasi dan kondisi untuk memenuhi tuntutan zaman yang selalu berubah. Kepeloporan dapat di miliki oleh orang yang memiliki tiga sarat sebagai beriku; (1) Memiliki ilmu pengetahuan yang luas (2) Memahami permasalahan yang menyeluruh sampai keakar-akarnya (3) Memiliki kemauan, keinginan untuk melaksanakannya.[8]

Kader paripurna idealnya mengetahui indenpendensi etis HMI yang merupakan karakter dan kepribadian kader. Watak independen HMI terwujudkan secara etis dalam bentuk pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader HMI. Juga  teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI yang akan membentuk “Independensi organisatoris HMI”. Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan merupakan watak azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui, watak dan kepribadiaan serta sikap-sikap yang : Cenderung kepada kebenaran (hanief); Bebas terbuka dan merdeka, Obyektif rasional dan kritis, Progresif dan dinamis dan Demokratis, jujur dan adil. Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI. Ini diartikan bahwa setiap kader secara massif senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan, tujuan dan segala usaha atau amal shalih bisa terwujud. Dalam melakukan partisipasi partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI hanya tunduk serta komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan objektifitas.[9]

Selain itu kader paripurna merupakan ulama intelektual dan intelektual ulama yaitu kader HMI yang memiliki kemampuan seimbang antara ilmu agama dan ilmu umum bagi sarjana umum, dan sebaliknya memilki kemampuan seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama bagi sarjana agama.[10] Semua itu sesuai dengan tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain kesejahteraan materiil dan kesejahteraan spiritual.[11]

Bahwa tujuan HMI sebagaimana yang telah dirumuskan dalam pasal 4 AD HMI pada hakikatnya adalah merupakan tujuan dalam setiap Anggota HMI. Insan cita HMI adalah gambaran masa depan HMI. Suksesnya anggota HMI dalam membina dirinya untuk mencapai Insan Cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI.

Insan cita HMI pada suatu waktu akan merupakan “Intelektual community” atau kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita umat dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang religius sejahtera, adil dan makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahuwataalah).

Dengan demikian kader merupakan aset berharga bagi umat bangsa dan Negara ini. Mereka semualah yang akan menjadi intelektual, pemimpin, ulama, ilmuan , negarawan, ekonom, yang paripurna penerus bangsa dan harapan umat. Maka sudah menjadi tugas HMI untuk mencetak kader-kader berkualitas yang mengabdi pada umat, bangsa dan negaranya dengan ikhlas limardhotilah.

4. Optimalisasi HMI dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia: Ikhtiar Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur

Dalam konteks Indonesia hari ini, disamping mayoritas pendudukanya agama Islam, juga semangat intelektualitas ke Islaman mulai marak karena Islam sebagai rahmatan lil alamin harus mampu diinterpretasikan dalam kemajemukan dan multikulturalnya bangsa dan Negara ini. Islam memang tidak dapat sejelas mungkin menunjukan diri dalam pembangunan Indonesia ini, Islam jangan dimaknai sebagai lembaga, tapi Islam harus dimaknai sebagai sistem tatanilai yang merasuk kepada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam pembangunan bangsa ini.

Upaya pembangunan Indonesia tidak bisa kita pisahkan dengan pengabdian kita sendiri kepada umat. Hubbul wathan minal iman, kecintaan pada Negara itu sebagian dari iman dan itu merupakan kewajiban setiap umat untuk begotong-royong bahu-membahu untuk menciptakan Indonesia yang madani. Tidak ada perbudakan. penindasan, diskriminasi, anarkisme pemeluk agama, kelaparan, pembodohan yang ada hanyalah kesejahtraan umat yang kebutuhan dunia dan akhiratnya seimbang, kebutuhan ilmu dan amalnya seimbang inilah masyarakat adil dan makmur.

Oleh karena itu terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan ini, karena ini merupakn instrument pokok dalam proses pembangunan baik kepada internal kita sebagai individu, sebagai kelompok sosial masyarakat, umat, bangsa dan Negara Indonesia. Aspek aspek dibawah ini harus diimplementasikan dalam mencapai pembangunan yang maksimal. Ada enam hal aspek pokok dalam terwujudnya msyarakat adikl dan makmur:[12]

1.Meletakkan kebenaran sejati sebagai tujuan hidup. Masyarakat Indonesia harus mulai untuk berani meniadakan segala bentuk meniadakan segala bentuk kepercayaan atau orientasi selain kepada kebenaran. Kebenaran merupakan asal dan tujuan dari kenyataan, dan kebenaran yang mutlak hanyalah milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Meletakkan harta, kekuasaan, jabatan, maupun “materi” yang lainnya sebagai tujuan atau orientasi hidup sama halnya  menghambakan diri terhadapnya. Dan itu yang membuat manusia Indonesia hari ini tidak malu atau bahkan takut untuk berbuat menyimpang dari apa yang menjadi suara hatinya. Konsumerialisme, materialistik, hedonis, korupsi, serta budaya-busaya buruk lainnya, pada dasarnya merupakan bawaan dari meletakkan selain kebenaran sebagai tujuan hidup.

2. Untuk dapat mecapai tahapan dalam meletakkan kebenaran sejati sebagai tujuan hidup, masyarakat Indonesia tidak boleh dikekang atau mengekakng diri (merdeka) baik dalam pemikiran maupun dalam bermasyarakat (ekspresi keberagamaan maupun dalam hubungan sosialnya), selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran itu sendiri. Dalam hal ini masyarakat Indonesia tanpa terkecuali harus memiliki kemerdekaan atas keberadaaan sekaligus hidupnya di segala aspek kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara fungsional, Negara memiliki tanggung jawab untuk mengupayakan dan menjaga kemerdekaan tersebut, di samping antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain.

3. Keadilan harus diwujudkan juga ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dan bangsa. Keadilan yang dimaksud adalah selain nantinya mlahirkan persamaan dalam maknanya yang luas, misalnya persamaan derajat, juga penempatan pada posisinya yang tepat apa yang merupakan hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat. Ada deskriminasi pada dasarnya merupakan salah satu bentuk dari ketidak adilan. Masyarakat memiliki hak yang sama misalnya dalam mendapatkan pendidikan yang layak, berpendapat, serta berpolitik.

4. Meskipun pendidikan bukan segala-galanya bagi Indonesia, tetapi tanpa pendidikan Indonesia tentu akan mengalami lebih banyak kesulitan. Untuk menopang ketiga hal yang sebelumnya, maka pendidikan harus mulai lebih diutamakan sebagai proses skaligus bekal dalam menjalani kebrlangsungan kehidupan masyarakat. Jaminan atas akses pendidikan serta kualitas pendidikan yang memadai harus duiupayakan secara serius. Wawasan atau pengetahuan yang luas yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia akan menjadi tonggak utama bagi tumbuh dan berkembangnya kualitas bangsa. Hal tersebut salah satunya dapat melalui pendidikan.pendidikan ini bisa berupa pendidikan akan ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu pasti, maupun ilmu-ilmu yang lain.

5. Hingga saat ini masyarakat Indonesia belum memilkiki sikap yang kritis dalam merespon segala hal yang masuk dari “luar”. Kekeritisan tersebut dibutuhkan selain sebgai filter, juga merupakan bentuk dari kesadaran terhadap gejala dan realitas sosial yang terjadi. Melalui sikap kritis tersebut, awal dari proses perubahan sosial biasanya terjadi. Melalui sikap kritis yang didasari oleh empat hal yang telah disampaikan sebelumnya.

6. Konsistensi dan keihlasan. Hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah menjaga keteguhan serta keberlanjutan secara terus menrus atas lima hal yang telah dilakukan. Sehingga semangat yang dibangun tidak hanya bersifat sementara, namun permanen dan tanpa henti. Meskipun demikian, jika semua hal yang dilakukan tidak dibungkus dalam sifat sekaligus sikap ikhlas, maka dikhawatirkan akan kembali kepada orientasi material. Oleh karena itu, dibutuhkan keihlasan dalam segala hal, baik dalam berfikir maupun dalam bertindak.

Enam syarat di atasa setidaknya senantiasa difahami dengan benar, diterapkan, serta dijaga keberlangsungannya. Enam hal ini juga yang merupakan bagaian dari sekian banyak bentuk pembumian akan nilai-nilai Islam dalam konteks pembangunan masyarakat menuju masyarakat dan Negara yang unggul, kokoh, dan mandiri.

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Kader merupakan ujung tombak dari HMI. Tanpa kader HMI tinggal menunggu akhir riyawatnya. Tugas HMI adalAh membina kadernya untuk dibina dan diarahkan supaya pola pikir, pola tingkah dan pola lakunya menjadi sumber inspirasi dan sumber motisi bagi generasi selanjutnya. HMI harus bisa merekonstruksi formula-formula aparatur organisasinya supaya lebih inspiratif  bagi mahasiswa secara umum dan kader HMI sendiri untuk berproses dan berjuang dalam Himpunan ini. Kader HMI harus siap dikader, mengkader diri dan mengkader orang lain. Kader merupakan aset berharga bagi umat bangsa dan Negara ini. Mereka semualah yang akan menjadi intelektual, pemimpin, ulama, ilmuan , negarawan, ekonom, yang paripurna penerus bangsa dan harapan umat. Maka sudah menjadi tugas HMI untuk mencetak kader-kader berkualitas yang mengabdi pada umat, bangsa dan negaranya dengan ikhlas limardhotilah.

Tujuan HMI sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4. AD ART HMI yaitu: Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah subhanahu wataalah”. Pada esensinya terdapat dua tujuan yakni tujuan mikro dan tujuan makro.[13] Tujuan mikro kita ber- HMI adalah Kualitas Insan yang  bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Sedangkan tujuan makronya adalah Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.

Dalam rangka pengabdian dan pembangunan HMI terhadap umat dan bangsa itu bisa dimakanai HMI sebagai organisasi yang melahirkan kualitas anak bangsa yang berkualitas, akan tetapi kita sebagai kader saja tidak cukup perlu adanya kesadaran bersama untuk membangun bangsa ini baik itu dengan menjadikan Islam sebagai sumber nilai, inspirasi dan motifvasi yang menyentuh segala aspek ke-Indonesiaan dan ke-Bangsaan negara ini. Ataupun dengan mendemokratisasikan setiap tatanan masyarakat Indonesia dengan kunci Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam jangan dimaknai sebagai lembaga, idologi, aliran yang mempersempit makna Islam itu sendiri, akan tetapi Islam harus dikontekstualisasikan sebagai tatanan nilai yang relefan dalam setiap lokus dan tempusnya al-Islamu shalihun lukuli zamani wa makani[14] sehingga Islam sebagai azas HMI merupakan jalan yang lurus menuju rahmat dan ridhonya.

DAFTAR PUSTAKA

Sitompul Agussalim, Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (th. 1947-1975), Surabaya: bina ilmu, 1976.

Satria, wibawa hariqo, Lafran Pane; Jejak dan Pemikirannya, Jakarta: Penerbit Lingkar, 2011.

Sitompul Agussalim, Citra HMI, cet II. Jakarta: CV Misaka Galiza, 2008.

Sitompul Agussalim, Menyatu dengan Umat Menyatu dengan Bangsa: Pemikiran Keislaman-Keindonesiaan HMI 1947-1997, Jakarta : Penerbit Logos Wacana Ilmu, 2002.

Sitompul Agussalim, 44 Indikator Kemunduran HMI: Suatu Kritik dan Koreksi untuk Kebangkitan Kembali HMI (50 Tahun Pertama HMI 1947-1997), cet.III. Jakarta: CV Misika Galiza, 2008.

Sitompul Agussalim, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam th. 1947-1993, cet.II. Jakarta: Misika Galiza, 2008.

Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu; Epistemologi, Metodologi, dan Etika, cet.II, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Hasil-hasil Kongres HMI XXVII, Sinergi HMI untuk Indonesia Bermartabat, Depok, 2010.

Latif Yudi, Dialektika Islam; Tafsir Sosiologis atas Sekularisasi dan Islamisasi di Indonesia, Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra, 2007.

Yusuf, Ali Anwar, Islam dan Sains Moderen, Bandung: Pustaka Setia, 2006.

Draft Arah Perjuangan HMI Cabang Yogyakarta, Re-Objektifikasi Nilai Kekaderan dan Kejuangan HMI; Ikhtiar Mewujudkan Indonesia Madani.

Daraf Arah Perjuangan HMI Komisariat Adab, Aktualisasi Ilmu Keadaban dalam Kaderisasi HMI Komisariat Adab; Ikhtiar Terwujudnya Kader Paripurna.

 

CURICULUM VITAE

Nama                           : Khairi Firzany

Tetala                          : Kapuas Hulu, 05 Januari 1991

Alamat Asal              : Dukuh Bogem RT 01/RW 01, Kec. Sampung Kab.Ponorogo, Jawa Timur

Alamat Jogja             : Jl. Petung No.12, Papringan, Depok Sleman Yogyakarta.

Fak/Jur/Semester   : Adab dan Ilmu Budaya/ Bahasa dan Sastra Arab/ VII

Contact Person            : 0856 4322 3088

Riwayat Pendidikan   :

JENJANG PENDIDIKAN

LULUS

MIN Bogem Sampung PO 2003
MTsN Bogem Sampung PO 2006
SMA MUH 1 Ponorogo 2008
UIN SUKA Yogyakarta 2008- sekarang

Pengalaman Organisasi

Nama Organisasi Jabatan Periode
PSM Anggota 2003-2006
IPM Anggota 2007-2008
HMI Komisariat Adab Wasekum KKN/ Sekum 2009-2010/2010-2011
Lapmi Progress Pimpinan Umum 2009-2010
Partai Pencerahan Wakil Ketua DPW Adab 2009-2010
HMI Koord.MPKPK 2011-2012

Motto                          : “jadikanlah masa lalu itu sebagai pelajaran untuk menggapai perubahan  di masa depan”


[1] Agus Salim Sitompul, 44 indikator kemunduran HMI. Jakarta: CV Misika Galiza, 2008.Hlm. 23.

[2] Hariko wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hikayat dan Kepemimpinannya. Jakarta: Penerbit Lingkar, 2011.hlm. 345-346.

[3] Agus Salim Sitompul, Sajarah Perjuangan HMI (Thn 1947-1975), Surabaya; Bina Ilmu, hlm. 166.

[4] Lihat Hasil-hasil Kongres HMI XXVII di Depok tentang Pedoman Perkaderan. hlm. 301-392.

[5] Agus Salim Sitompul, 44 indikator kemunduran HMI. ibid. hlm. 38.

[6] Hariko wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hikayat dan Kepemimpinannya, ibid. hlm. 361.

[7] Lihat Hasil-hasil Kongres HMI XXVII di Depok tentang Kualitas Lima Insan Cita dalam Tafsir Tujuan HMI . hlm. 111-113.

[8] Agus Salim Sitompul, citra HMI, Jakarta: CV Misaka Galiza, 2008. hlm 12-15.

[9] Lihat Hasil-hasil Kongres HMI XXVII di Depok tentang Tafsir Independensi. Hlm. 114-118.

[10] Hariko wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hikayat dan Kepemimpinannya, ibid hlm. 375.

[11] Lihat Hasil-hasil Kongres HMI XXVII di Depok, ibid, hlm. 110.

   [12] Lihat Draft Arah Perjuangan HMI Cabang Yogyakarta, Re-Objektifikasi Nilai Kekaderan dan Kejuangan HMI; Ikhtiar Mewujudkan Indonesia Madani.

[13] Tujuan mikro adalah tujuan kecil yang dimaknai sebagai tujuan hmi yang bisa di capai pada masa jangka pendek atau singkatnya ketika kader masih bersetatus sebagai mahasiswa. sedangkan tujuan makra adalah tujuan besar yang hanya bisa tercipta ketika kita mengabdi dan berikhtiar untuk membangun bangsa dengan iman, ilmu dan amal kita yang di peroleh.

[14] Anwar Yuisuf, Islam dan Sains Moderen, hlm.17.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: